Amalia, 11 Mei 2012
Di malam kelabu yang menghempaskan segala rindu
yang merotasikan segala kenangan yang telah berlalu.
Tiada lagi namamu dalam inbox ponsel hitamku. Tiada lagi
300 pesan lebih yang kuhapus setiap harinya. Pulsaku selalu ingin meluap tanpa adanya guna untuk membalas pesan darimu. Jariku mulai
kram karena tak bisa lagi memencet tombol keyboard ponsel untuk membalas pesanmu (tentunya). Hariku berantakan tanpa adanya kamu yang mengirim pesan hanya untuk membangunkanku, hanya agar aku membuka mata, kemudian belajar.
Tiada lagi pesan-pesan centil darimu yang menggelitik sampai dasar hatiku. Semuanya hilang, pergi. Seperti dilalap api. Mungkin saja enggan kembali. Hanya hari-hariku yang kembali seperti semula, hari-hari tanpamu. Hambar. Bahkan terlampau hambar. Sedikit pahit.
Hanya pesan-pesan iseng yang melengos dengan sender yang tak pernah kuanggap penting. Tak pernah.
Di setiap aku membuka mata, aku selalu berharap bahwa kemarin adalah mimpi. Mimpi buruk yang tak pernah terjadi dan tak boleh diungkit kembali. Tapi, sayang bukan itu yang terjadi.
Yang terjadi adalah rinduku semakin menjadi. Aku semakin frustasi.
Setiap setelah aku menyibak selimutku, aku selalu mengecek keadaan mataku. Bengkak-merah-berkantung selalu seperti itu. Aku tau, menangisimu semalaman memang tidak baik. Tapi itu bukan pilihan. Aku tidak bisa memilih.
- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact